Kisah Pak Pendek, Supir Ambulance yang Tidak Pernah Lelah Membantu Sesama

Agus Ismanto
.
Sabtu, 24 September 2022 | 18:23 WIB
Sulistyono (56), supir ambulance yang tidak kenal lelah membantu sesama. Lebih dari 10 tahun waktunya digunakan untuk membantu korban kecelakan di jalan raya

GRESIK, iNews.id - Supir ambulans, Sulistiyono yang akrab disapa Pak Pendek (56), bukan sembarang supir. Ia menghabiskan sebagian besar waktunya di jalan untuk membantu sesama.

Menolong korban kecelakaan di jalan raya,mengajak pengguna jalan tertib berlalu lintas, hingga menjadi operator pengatur trafick light di perempatan Legundi, desa Driyorejo, kabupaten Gresik menjadi rutinitas keseharianya. 

"Semoga bermanfaat. Hanya ini yang bisa saya lakukan untuk meringankan beban sesama." ujar Pak Pendek di sela sela aktivitasnya di pos polisi Legundi, Sabtu, (24/9).

Selama lebih dari 10 tahun, kakek 4 orang cucu ini, menjalani hari harinya dengan sabar dan ikhlas. Dia menyediakan waktunya selama 24 jam untuk siaga. "Pokoknya sewaktu-waktu ada panggilan darurat, langsung meluncur. Tidak peduli siang maupun malam," urainya.

Pengalaman suka maupun datang silih berganti. Pernah suatu ketika, dirinya pulang dengan tangan hampa. Karena keluarga korban kecelakaan yang dihantarkan tidak punya uang. Padahal, dirinya telah mengeluarkan biaya pembelian BBM.

"Kalau sudah begitu, trus mau gimana lagi. Ya sudah diterima saja. Semoga ini menjadi amalan saya," tukasnya. 

Selain mengevakusai korban kecelakaan ke rumah sakit.  Dia juga kerap diminta tolong polisi mengevakuasi penemuan jenasah, maupun korban tidak kekerasan lainnya. "Sepanjang saya bisa melakukan. Insyaaalah saya siap dan selalu bersedia," tambahnya.

Di sela aktivitas sebagai supir ambulance, Pak Pendek juga menjadi operator pengatur trafick light di perempatan Legundi, Driyorejo, Gresik. Aktivitas ini, dia jalani pada pagi dan sore hari, karena arus lalu lintas sangat padat dan selalu terjadi kemacetan. 

Trafick light Legundi sebenarnya telah delinglapi pengaturan otomatis. Namun, menurutnya, tidak bisa diterapkan sewaktu-waktu, terutama pada jam sibuk pagi dan sore hari. Sehingga perlu diatur secara manual, akibat tingginya volume kendaraan. 

"Alhamdulilah. Kemacetan panjang bisa diminimalisir dengan pengaturan secara manual," jelasnya.

Sambil mengatur trafick light, Pak Pendek selalu memegang mike pengeras suara. Dia  mengajak pengguna jalan agar tertib berlalu lintas. Jangan saling serobot, Jangan melawan arus, Jangan berkendara sambil telpon, Gunakan Helm, Gunakan Sabuk Keselamatan, Jaga Jarak Aman, Atur Kecepatan Kendaraan.

"Saya hanya mengingatkan saja, supaya pengguna jalan terhindar dari musibah kecelakaan. Karena kecelakaan bisa terjadi tidak disangka-sangka,"kata kakek yang  mengaku tidak memiliki ijasah sekolah ini. 

Lebih jauh Pak Pendek menerangkan,  membantu sesama memancarkan kepositifan, kepuasan, kebahagiaan, dan cinta kepada orang-orang lain. "Ketika bisa membantu orang lain, saya menemukan senyum dari orang-orang yang terbantu," urainya. 

Di sela rutinitasnya yang segunung itu, Pak Pendek masih menekuni pekerjaan lamanya sebagai seorang petani. Aktivitas ini, tidak bisa ditinggalkan, karena sudah menyatu dalam dirinya. Namun, pekerjaan petan, biasa i dilakukan pada siang hari. Usai aktivitasnya bertugas di pos polisi. 

"Alhamdulilah hasil bertani lumayan untuk menyambung hidup. Sekaligus refreshing agar tidak jenuh menjalani rutinitas sehari-hari," jelasnya.

Pak Pendek berkomitmen akan sealu mengabdikan sisa umumya untuk membantu sesama. Tidak ada kata lelah, karena semua dijalaninya dengan sabar dan ikhlas. "Semoga ini bermanfaat dan menjadi tabungan akhirat saya," pungkasnya.
 

Editor : Agus Ismanto
Bagikan Artikel Ini