Sukses Turunkan Angka Pernikahan Dini, Kecamatan Tongas Meraih 5 Besar SP2K Jawa Timur

Agus Ismanto
.
Kamis, 24 November 2022 | 21:39 WIB
Kegiatan edukasi di kalangan santriwati pentingnya studi lanjut dan keberanian menolak pernikahan di usia muda

GRESIK, iNews.id - Kecamatan Tongas, kabupaten Probolinggo berhasil meraih posisi Lima Besar dalam Sinergisitas Penyelenggaraan Pemerintahan di Kecamatan (SP2K) Provinsi Jawa Timur 2022. 

Prestasi ini dicapai, berkat keberhasilanya menurunkan angka pernikahan dini melalui inovasi 'Si Gercep Dini' (Sinergi Gerak Cepat Cegah ernikahan Dini).

Camat Tongas Abdul Ghafur, mengatakan Inovasi 'Si Gercep Dini' didirikan pada 4 Februari 2021  melalui SK camat. Ditandai dengan pembentukan tim yang tugasnya, melakukan pendekatan ke berbagai pihak untuk menurunkan angka pernikahan dini.

“Inilah yang kita lakukan dalam dua tahun terakhir di Tongas untuk mengurangi balita stunting melalui pencegahan pernikahan dini,” ujar Abdul Ghafur, saat Fase tinjau lapang di Kantor Kecamatan Tongas dan titik-titik lokus tinjauan sesuai aspek penilaian, Rabu (16/11/2022). 

Dikatakanya, anak-anak mendapatkan edukasi pentingnya studi lanjut dan keberanian menolak pernikahan di usia muda. Edukasi disampaikan di sekolah-sekolah. Sedangkan, para orang tua juga mendapatkan penyuluhan agar tidak menikahkan anaknya di usia muda. 

"Memang tidak mudah, karena di Kecamatan Tongas ada kultur segera menikahkan anak daripada tidak laku. persoalan ekonomi juga menjadi kendala, karena keinginan orang tua agar segera terlepas dari beban menanggung biaya hidup anak," ungkap Abdul Ghafur.

Inovasi si Gercep Dini, lanjutnya, juga melakukan pendekatan ke tokoh masyarakat dan tokoh agama. Melalui koordinasi tiga pilar, akhirnya pimpinan pondok mempersilakan pihak kecamatan melakukan sosialisasi mencegah pernikahan dini kepada para santrinya.

"Hasilnya pun tampak. Jumlah pernikahan dini bisa diminimalisasi.  pada tahun 2020 berjumlah 171 pernikahan. Namun, pada tahun 2021 turun menjadi 155 pernikahan. Dan pada bulan September 2022 turun lagi menjadi 138 pernikahan dini," jelasnya. 

Menurutnya, penurunan angka pernikahan dini, diikuti dengan penurunan jumlah anak dengan kondisi stunting. Tentunya, diikuti dengan intervensi lain, diantaranya pemberian makanan bergizi dan pembiasaan pola hidup sehat.

"Hasilnya, jumlah anak stunting pada tahun 2021 turun menjadi 530 anak dan 97 diantaranya berasal dari pasangan pernikahan dini (18,30%). Sedangkan per September 2022 jumlah anak stunting sebanyak 229 anak dan 43 anak diantaranya berasal dari pasangan pernikahan dini (18,78%)," tandasnya.

Kecamatan Tongas merupakan salah satu wilayah kecamatan di kabupaten Probolinggi dengan tingkat pernikahan dini yang relatif paling tinggi. Pada tahun 2020, terdapat sebanyak 171 pernikahan dini dari 14 desa yang ada di Kecamatan Tongas. 

Jumlah anak stunting juga termasuk tinggi. Pada tahun 2019 di Kecamatan Tongas terdapat sebanyak 734 anak stunting, 134 anak di antaranya merupakan anak dari pasangan pernikahan dini (sekira 18,26%). Pada tahun 2020 jumlahnya meningkat menjadi 612 anak dengan 119 di antaranya dari pasangan pernikahan dini (19,44 %).

Peneliti JPIP Ahmad Faizin Karimi, memberikan catatan terkait pengelolaan inovasi ini. Menurutnya, pengelola perlu memperkuat kerapian administrative dari operasional program. “Misalnya dalam sosialisasi, perlu ada catatan sudah dilakukan kepada siapa, kapan, berapa banyak pesertanya, materinya apa, dan sebagainya,” ujar pria yang menjadi penilai bidang inovasi.

Sementara itu, Plt Bupati Probolinggo, Timbul Prihanjoko menyatakan inovasi Si Gercep Dini akan dicoba direplikasi di kecamatan lain. “Kami berharap Tongas menjadi contoh kecamatan lain, agar aparatur menjalankan tugas dan fungsi kecamatan sebagai kepanjangan tangan bupati sehingga berdampak pada peningkatan pelayanan kepada masyarakat,” ungkapnya.

Informasi yang dihimpun, pernikahan dini menjadi salah satu penyebab tingginya Stunting. Dalam pernikahan dini, wawasan orang tua akan pola asuh serta kesiapan biologis fisik ibu yang masih minim, bisa meningkatkan risiko stunting pada bayi. 

Namun, fakta di lapangan pernikahan dini masih banyak terjadi. Utamanya pada masyarakat berpenghasilan dan tingkat pendidikan rendah serta budaya patriarki tinggi.
 

Editor : Agus Ismanto
Bagikan Artikel Ini